SUDUT PANDANG

Post by : Outbound Malang

Hai orang yang beriman! Taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul, dan orang-orang yang berkuasa di antara kamu. Dan bila kamu berselisih tentang sesuatu di kalanganmu sendiri, hendaklah kamu mengembalikannya kepada Allah dan Rasul. Jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, itu lebih baik dan penyelesaian yang paling indah.

– Q.S. 4 Surat An Nisa’ (Wanita-wanita) Ayat 59 –

Baru-baru ini ramai diperdebatkan tenang kasus “Domba Dolly” yaitu percobaan kloning yang sukses. Dunia gempar. Para ilmuwan bangga karena ini merupakan suatu perkembangan ilmu biologi yang sangat luar biasa. Namun beberapa agamawan menentang kloning ini, karena dianggap mengingkari tuhan “Garis demarkasi Tuhan”, katanya. Orang yang berprisipan pada ilmu pengetahuan mendukung, sebaliknya yang berprinsip pada etika moral menolak. Tidak kurang Bill Clinton pun sempat menolak hal ini. Dan sampai saat iniklonong menjadi perdebatan, bagaimana menurut anda?
Langkah pertama, untuk menjawab kondisi tersebut di atas maka pergunakanlah radar hati anda terlebih dahulu untuk menelusuri alam pikiran anda. Ranungkan sejenak, apakah sebenarnya prinsip yang bertengger di pikiran anda?
– Berprinsip pada ilmu pengetahuan, anda akan setuju.
– Berprinsip pada keamanan, anda mungkin akan lebih berhati-hati dan cenderung menolak.
– Berprinsip pada penciptaan, sudah pasti anda akan mendukung.
– Berprinsip pada uang, jelas anda akan menyetujuinya.
– Berprinsip pada kesejahteraan, anda mulai mendukung, tetapi tetap anda berpikir pada faktor yang lainnya yaitu keamanan.
– Ingat sifat Allah yang selalu bijaksana dan adil, maka anda pun akan bersifat adil dan bijaksana pula dalam mengambil keputusan, dengan mempertimbangkan semua kepentingan yang berasal dari suara hati yang lain atau berpikir melingkar ( 99 Thinking Hats). Thawaf suara hati.

Langkah kedua,
– Bersikap empati, yaitu mengenali dan memahami cara berpikir mereka. Anda akan dengan mudah mengenali prinsip mereka dengan cara mendengar jawaban dan pendapatnya.
– Pergunakan radar hati anda dengan cara berpikir “melingkar”, maka akan tersingkap bahwa jawaban mereka pastilah berdasarkan suara hati juga, yang berada hanyalah prioritas dan kepentingan saja.
– Berikan koridor dan tampung aspirasi mereka, bersikaplah rahman dan rahim!

Langkah ketiga,
– Musyawarahlah dengan berlandaskan prinsip, empati, dan prioritas berdasarkan situasi pada saat itu.
– Ingat prinsip zero mind dan prinsip adil, dan tetap memegang prinsip hanya Allah-lah yang Maha Benar.
– Jadi apakah keputusan anda sekarang, silahkan anda putuskan!

Hai orang yang beriman! Tegakkan keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah kebencian orang mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlakulah adil. Itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah.

– Q.S. 5 Surat Al Ma’idah (Hidangan) ayat 5 –

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

LANGKAH MENENTUKAN PRIORITAS

Post by : Outbound Malang

“Orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat beribadah, orang yang memberi nafkah, dan orang yang berdoa memohon ampun sebuah fajar menyinsing.”

– Q.S. 3 Surat Ali ‘Imran (Keluarga Imran) Ayat 17 –

Berdasarkan diagram kepentingan dan prioritas tersebut, maka kesibukan dibagi menjagi tiga jenis kelompok. Kelompok yang sibuk mengisi waktu, kelompok yang sibuk pertengahan, danb kelompok yang sibuk mencapai tujuan:

Kelompok sibuk pengisi waktu, melakukan kegiatan sepele yang memboroskan waktu tetapi tidak penting. Kegiatan ini biasanya tidak memiliki tujuan jangka panjang. Mereka tidak tahu ke mana melangkah, di dalam pikiran mereka, mereka merasa sudah mencapai tujuan hidup, namun ibarat orang yang jalan di tempat, mereka tidak kemana-mana. Mengalir saja seperti air dan sibuk menyalahkan nasib. Kelompok ini juga selalu tampak sibuk. Namun sebenarnya mereka tidak produktif sama sekali. Pekerjaan tanpa visi dan misi adalah pebuatan sia-sia. Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa tanda bai keislaman seseorang ialah meninggalkan perbuatan yang sia-sia (H.R. Turmudzi).

Kelompok pertengahan, adalah kelompok yang melawan gelombang lautan.pekerjaan mereka terus-menerus mengatasi krisis dari hari kehari. Terus-menerus mengerjakan masalah mendesak. Bekerja seperi ini biasanya lebih mudah karena masalahnya sudah jelas di depan mata dan tidak memerlukan visi. Lama kelamaan dia akan terperosok juga pada rutinitas pekerjaan yang kurang penting, tetapi mendesak. Kelompok itu tidak akan cepat maju, karena tidak memiliki visi inisiatif. Prinsipnya sederhana saja, selesaikan masalah-masalah yang timbulkemudian beristirahat. Merekaa tidak ke mana-aman tetapi merasa dirinya sudah melakukan banyak hal secara maksimal. Tidak ada kemajuan yang berarti. Karena ia tidak memiliki visi yang kuat, mereka menjadi korban lingkungannya sendiri. umumnya mereka sering mengeluh dengan mengatakan: “Saya sudah bekerja maksimal tetapi hasilnya begini-begini saja, kurang apalagi saya.”

Kelompok pencapai tujuan, adalah orang yang sudah memiliki tujuan hidup yang jelas. Setiap langkah yang diambil adalah pengejawatan dan visinya. Kelompok ini selalu merencanakan langkah-langkah yang dibuatnya secara tujuan jangka pendek, yang bisa dicapai secara realitis, dalam jngka waktu tertentu. Dia selalu mematuhi visinya, dan visi tersebut menjadi auto pilot-nya. Suara hati terus dihidupkan sebagai radar kecerdasan hati yang mampu mendeteksi mana yang boleh danmana yang tidak boleh dilakukan. Kelompok ini mampu menentukan skala prioritas berdasarkan visi, prinsip, dan suara hati secara bijaksana.

Zero Mind 4:
Dengarlah suara hati, peganglah prinsip “karena Allah”, berpikirlah melingkar, sebelum menentukan kepentingan dan prioritas (99 Thinking Hats).

“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah. Hendaklah setiap orang memperhatikan perbuatan apa yang telah dilakukannya, sebagai persediaan untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah tahu benar apa yang kamu lakukan.”

– Q.S. 59 Surat Al Hasyr (Pengusiran) Ayat 18 –
Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

PENGALAMAN

Post by : Outbound Malang

dan hendaklah ada di antara kamu suatu umat yang menyeruh berbuat kebaikan, dan menyuruh orang melakukan yang benar, serta melarang yang mungkar. Merekalah orang yang mencapai kejayaan.

– Q.S. 3 surat Ali ‘Imran (Keluarga Imran) ayat 104 –

sebuah ilustrasi dari sebuah pengalaman itu sendiri, adalah ketika saya mewawancarai seorang Presiden Direktur PT. Asuransi Jiwa Bakrie, 20 Juli 2000 yang lalu. Alasan saya memilih beliau, sebut saja “DS”, karena karirnya yang beranjak dari bawah sekali. Mulai berjarir tahun 1963 di BNI, selanjutnya selama tujuh tahun di Citibank sejak 1968. Pada tahun 1981 dipercaya menjadi Vice President di Bank Niaga, tahun 1986-1991 sebagai Wakil Presiden Direktur di Bank Utama. Tahun 1991 hingga tahun 1997 menjabat Direktur merangkap komisaris di BII, sekarang menjabat sebagai Presiden Direktur PT. Asurasnsi Jiwa Bakrie. Suatu perjalanan karir di mana dia mampu terus berada di puncak. Paling istimewa lagi adalah dia mulai berkarir dengan hanya bermodal ijazah SMA saja.
Selama perjalananya memimpin beberapa perusahaanm DS selalu menghadapi permasalahan yang hampir sama, apabila hendak melakukan suatu perbaikan atau perombakan manajemen, yakni pola berpikir para karyawannya yang selalu merujuk pada sebuah pengalaman lama. Mereka selalu berkata: “Dari dulu juga begini, tidak apa-apa kok!”
Saya akan kemukakan salah satu contoh belenggu pikiran yang berhasil dirombak olehnya. Sebuah contoh sederhana: kebiasaan melipat surat yang salah, karena tidak diukur dahulu sebelum dilipat, kemudian bekas lipatan itu diluruskan lagi, sehingga lipatan yang salah tersebut meninggalkan bekas pada surat. Hal ini menurutnya akan menimbulkan efek negatif bagi para nasabah bank ketika melihat bekas garis lipatan yang tidak rapi tersebut dan bisa berdampak besar bagi Bank, yaitu hilangnya rasa kepercayaan para nasabah yang dikelolahnya. Cetusan suara hati itu kemudian menjadi kebiasaan di BII, dengan adanya tanda untuk melipat surat. DS telah memanfaatkan suara hatinya, dorongan utnuk lebih sempurna, di saat karyawan-karyawannya saat itu masih terbelenggu oleh pengalaman dan kebiasaan lama yang membuat mereka tak bisa berpikir merdeka dan tak mampu berpikir lebih maju.
Kisah lain DS, pada saat memimpin di sebuah bank swasta. Karyawannya terbiasa mengirimkan surat dalam dua lembar kertas. Pada lembar kedua isinya, “Demikian, terimah kasih” dan sebuah goresan tanda tangan. Kebiasaan penghematan yang dibuat olehnya ternyata sangat luar biasa. Katakan saja, seandainya ada satu juta nasabah, yang setiap bulan harus dikirimi surat pemberitahuan, artinya satu tahun menjadi 1 juta x 12 = 12 juta lembar! Kalikan saja dengan Rp. 250 untuk harga perlembar surat. Penghematan 230 x 12 juta lembar = 3 milyar rupiah. Seandainya hal ini sudah dilakukan sepuluh tahun yang lalu maka penghematan yang seharusnya terjadi adalah 30 miliar rupiah. Ini suatu contoh harga sebuah suara hati. Dan inti permasalahannya, mengapa hal ini tidak mampu ““ilihat””oleh karyawan yang bertanggung jawab terhadap surat-surat tersebut. kEmbali, pengalaman dan kebiasaanlah yang telah membelenggu hati dan pikiran, yang akhirnya mengakibatkan kerugiaan luar biasa.
Pemikiran seperti ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi. Sehingga ia tidak bisa lagi melihat dan menilai sesuatu secara obyektif, apalagi pengalaman atau budaya tersebut dimiliki secara kolektif, maka suatu pemikiran akanmenjadi suatu paham. Contohnya, kejadian Nicolaus Copernicus, Kepler dan Galileo Galilei yang dihukum dan ditentang karena menemukan teori “Matahari-Sentris”.
Pengalaman kehidupan dan lingkungan akan sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang yang berakibat pada terciptanya sosok manusia hasil pembentukan lingkungan sosialnya. Bisa dibayangkan apabila ia berada pada lingkungan sosial yang buruk, maka ia pun akanmenjadi seseorang seperti lingkungan itu. Sebagai contoh, seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang (acceptance) dan keakraban dalam lingkungan keluarga, ia akan belajar hidup penuh dengan cinta dan bersahabat. Berbeda dengan lingkungan yang penuh celaan, hinaan, permusuhan, yang hanya akan menghasilkan manusia-manusia dengan pribadi labil dan kurang bermoral. Dalam suatu hadits pun dijelaskan tentang perumpamaan kawan yang baik dan buruk:

Bagaikan pembawa misik (kasturi), dengan peniup api tukang besi, maka yang membawa misik, adakalanya memberimu atau anda membeli padanya, atau mendapat bau harusm darinya. Adapun peniup api tukang besi, jika tidak membakar bajumu, atau anda mendapat abau busuk daripadanya.

– H.R. Bukhari dan Muslim –

Pengalaman-pengalaman hidup, kejadian-kejadian yang dialami juga sangat berperan dalam menciptakan pemikiran seseorang, sehingga membentuk suatu “paradigma” yang melekat di dalam pikirannya. Seringkali paradigma itu dijadikan sebagai suatu “kaca mata” dan sebuah tolok ukur bagi dirinya sendiri, atau untuk menilai lingkungannya. Hal ini jelas akan sangat merugikan dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Ini akan sangat membatasi cakrawala berpikir, akibatnya ia akan melihat segala sesuatu secara sangat subyektif, ia akan menilai segalanya berdasarkan “frame” berpikirannya sendiri, atau melihat berdasarkan bayangan ciptaannya sendiri, bukan melihat sesuatu secara riil dan obyektif. Ia akan menjadi produk dari pikirannya. Ia akan terkungkung oleh dirinya sendiri. Kadang ia tidak menyadari sama sekali bahwa alam pikirannya itu sudah begitu terbelnggu.
Prinsip yang benarlah yang akan melindungi diri kita dari pengaruh pengalaman hidup, bukan “proaktif”, karena proaktif barulah sebuah metode untuk melihat sesuatu secara berbeda. Melihat sesuatu secara proaktif tanpa diland

MATERI : PRINSIP-PRINSIP HIDUP

Post by : Outbound Malang

“Perumpamaan orang yang mengambil selain Allah sebagai pelindung, adalah seperti laba-laba yang membuat rumah untuk dirinya sendiri.” Tetapi sebenarnya rumah laba-laba itu adalah serapuh-rapuhnya rumah, jika mereka tahu.”

– Q.S. 29 Surat Al ‘Ankabuut (Laba-laba) Ayat 41 –

Beberapa dekade ini kita melihat berbagai prinsip hidup yang dianut dan diyakini itu telah menciptakan berbagai tipe pemikiran dengan tujuannya masing-masing. Setiap orang terbentuk sesuai dengan prinsip yang dianutnya. Hasilnya bisa dianggap hebat, mengerikan, bahkan menyedihkan.
Di Jepang ada budaya Harakiri, tatkala seseorang merasa bersalah atau putus asa. Ia akan memasukan pedang Katana dan merobek bagian lambungnya kemudian mati perlahan. Jembatan Golden Gate di San Franscisco adalah tempat bunuh diri yang paling populer di Amerika Serikat yang begitu mengagumkan paham Kapitalisme, sementara Uni soviet runtuh karena menganut paham Komunisme.
Paham Peter Drucker dalam bukunya “Management by Objective” ternyata hanya menghasilkan budak-budak materialis di bidang ekonomi, efesiensi, dan teknologi, tetapi hatinya kekeringan dan tidak memiliki keteneraman batin, ada sesuatu yang hilang. Lalu muncullah aliran Theoisme yang mengagungkan ketenteraman dan keseimbangan batin, tetapi menghasilkan manusia-manusia yang lari dari tanggung jawab ekonomi. Pemikiran Dale pengaruhi jutaan orang di dunia dalam tingkah laku, namun masih belum menyentuh sisi terdalam dari inti pemikiran, dan hasilnya adalah mendewakan penghargaan.
Prinsip “Ubber Alles” atau ras yang tertinggi dan prinsip Biefl its Biefl atau perintah adalah perintah yang selalu dikumandangkan oleh Jenderal besar Nazi dan dipegang teguh oleh tentara Nazi Jerman pada Perang Dunia II, memang berhasil membuat Jerman begitu perkasa saat itu. Sebagian daratan Eropa dikuasai dalam waktu relatif singkat dengan dimulainya pertempuran Polandia tahun 1936. Namun akhirnya, sejarah mencatat Nazi Jerman ambruk dan Hitler bunuh diri. Cerita klasik Romeo dan Juliet yang mati bunuh diri bersama hanya karena sebuah cinta, yang kemudian banyak ditiru oleh remaja di dunia. Bangsa Yahudi berkeyakinan bahwa merekalah bangsa pilihan Tuhan di muka bumi ini. Sehingga bangsa itu berupaya sungguh-sungguh membuktikannya. Berusaha menguasai dunia dengan sekuat-kuatnya, senator-senator berpengaruh di Amerika Serikat banyak yang berasal dari kaum ini. Politikus, ilmuwan, bahkan penguasa kaliber dunia banyak dilahirkan dari bangsa Yahudi, seperti Henry Kissinger, Albert Einstein dan Geprge Soros, yang pernah mengguncang dunia saat itu. Sumpah Palapa dari Patih Gajah Mada adalah prinsip yang telah terbukti keberhasilannya pada zaman kerajaan majapahit untuk menyatukan Nusantara kala itu. Budaya Jawa pun sangat kaya dengan prinsip hidup seperti alon-alon asal kelakon, mangan ora mangan sing penting ngumpul, sangat berpengaruh pada sikap sebagian orang Jawa.

Prinsip-prinsip yang tidak fitrah umumnya akan berakhir dengan kegagalan, baik kegagalan lahiriah ataupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip yang tidak sesuai dengan suara hati atau mengabaikan hati nurani seperti pada contoh di atas, terbukti hanya mengakibatkan kesengsaraan atau bahkan kehancuran.
Prinsip-prinsip buatanmanusia itu sebenarnya adalah suatu upaya pencerian dan coba-coba manusia untuk menemukan arti hidup yang sebenarnya. Mereka umumnya hanya memandang suatu tujuan dari sebelah sisi saja dan tidak menyeluruh, sehingga akhirnya menciptakan suatu ketidak seimbangan, meskipun pada kahirnya keseimbangan alam telah terbukti menghempaskan mereka kembali. Mereka biasanya merasa paling benar, tanpa menyadari bahwa sisi lain dari lingkungannya yang juga memilikiprinsip yang berbeda dengan dirinya. Hanya berprinsip pada sesuatu yang haikiki. Berprinsip dan berpegang pada sesuatu yang lebih labil niscaya akan mengahsilkan sesuatu yang lebuh pula.

Zero Mind 2:
Berprinsiplah selalu kepada Allah Yang Maha Abadi

“Jika Allah mengetahui dalam diri mereka ada kebaikna, tentulah dijadikan-Nya mereka mendengar. Tetapi sekalipun (Allah) menjadikan mereka mendengar mereka akan berbalik juga dan berpaling.”
(Q.S. 8 Surat Al anfaal (Rampasan Perang) ayat 23)

Incoming search terms for the article:

– Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Materi: ANGGUKAN UNIVERSAL

Post by : Outbound Malang

Manusia adalah sama dengan logam (dalam sifat dasar mereka). Oleh karena itu yang terbaik di antara mereka semasa jahiliyah (zaman kegelapan) akan menjadi terbaik dalam Islam; asal mereka sampai kepada pemahaman Islam yang besar.

– H.r. Bukhari dan Muslim –

manusia sebenarnya memiliki suara hati yang sama. Itulah yang disebut God-Spot atau fitrah.

Menurut al Qur’an, sebelum bumi danmanusia diciptakan, ruh manusia telah mengadakan perjanjian dengan Allah, Allah bertanya kepada jiwa manusia: “…Bukankah aku Tuhanmu?” lalu ruh manusia menjawab: “Ya, kami bersaksi…! (Surat Al A’raf ayat 172. Bukti adanya perjanjian ini menurut Muhammad Abduh ialah adanya fitrah iman dan di dalam jiwa manusia. Danmenurut Prof. Dr. N. Dryarkara, S.J. ialah adanya suara hati manusia. Suara hati itu adalah suara Tuhan yang terekam di dalam jiwa manusia.

Karena itu bila manusia hendak berbuat tidak baik, pasti akan dilarang oleh sura hati nuraninya. Sebab Tuhan tidakmau kalau manusia berbuat tidak baik. Kalau manusia tetap mengerjakan, perbuatan yang tidak baik itu maka suara hatinya akan bernasehat. Dan kalau sudah selesai pasti akan menyesal. Mac Scheler mentakan penyesalan adalah ‘tanda kembali’ kepada Tuhan.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan mantap kepada agama, menurut fitrah Allah yang telah menciptakan fitrah itu pada manusia. Tiada dapat diubah (hukum-hukum) ciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

– Q.S. 30 Surat Ar Ruum (Bangsa Romawi) Ayat 30 –

Begitu pula apabila kita sedang membaca buku yang bermutu, mendengar pidato yang baik, percakapan berkualitas, mendengar puisi dan syair, atau bahkan menyaksikan film berkelas dunia seperti “Titanic” yang memunculkan arti sifat Muhyi dan Mumiit (Yang Menghidupkan dan Mematikan) dari Sang Kuasa, atau film “Saving Private Ryan” yang menekankan arti integritas dan kesetiaan, atau film “Life is Beautiful” yang menonjolkan arti kekuatan sebuah prinsip hidup. Maka di dalam pikiran danperasaan, akan muncul suatu penilaian yangmenarkan dan meniyakan pengertian, dan pemahaman jika sesai dengan suara hati. Kita sering mengangguk-angguk sebagai tanda pengakuan, disadari atau tanpa disadari. Itulah makna dan bukti dari pengakuan manusia, sesuai dengan perjanjian jiwa antara manusia dengan Tuhan, sebelum menusia dilahirkan. Ketika itu jiwa manusia menjawab danmengaku, “Betul Engkau Tuhan kami.” Jiwa manusia itu mengangguk. Inilah sebuah anggukan universal.

Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari Bani Adam keturunanya dari sulbiyah, danmenyuruh bersaksi terhadap dirinya mereka sendiri (atas peryataan), “Bukankah Aku Tuhanmu?”

Mereka menjawab,

“Ya, kami bersaksi!”…

– Q.S. 7 Surat Al A’raaf (Tempat yang Tinggi) ayat 172 –

namun ada kalanya suara hati itu tertutup, buta. Manusia sering mengabaikan pengakuan ini, yang justru mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam kejahatan, kecurangan, kekerasan, kerusakan, kehancuran (non-fitrah) danlain hal yang pada kahirnya mengakibatkan kegagalan, atau tidak efektif,serta tidak maksimalnya suatu usaha. Saya akan mencoba menjelaskan tujuh faktor yang menutupi fitrah (God-Spot), yang tanpa disadari membuat manusia menjadi buta. Ini mengakibatkan dirinya memiliki kecerdasan hati yang rendah, serta tidak memiliki radar hati sebagai pembimbing. Suara hati sebagai pemberi informasi penting. Belenggu-belenggu tersebut adalah sebagai berikut.

1. Prasangka

2. Prinsip-prinsip hidup

3. Pengalaman

4. Kepentingan dan prioritas

5. Sudut pandang

6. Pembanding

7. Literatur
Incoming search terms for the article:

– Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Materi: Identifikasi Kemampuan Dasar Pemandu Latihan

Post by : Outbound Malang

A. Tujuan

1. Peserta mampu mengidentifikasi potensi kemampuan dirinya sebagai Pemandu Latihan berdasarkan persepsinya sendiri selama ini.

2. Peserta mampu menghayati langsung pelaksanaan peran dan fungsi Pemandu Latihan sebagai Pembimbing, Peserta, dan sekaligus Pengamat dalam suatu proses pelatihan.

3. Peserta menyadari makna umpan-balik dalam kegiatan pelatihan.

B. Pokok Bahasan

1. Kemampuan-kemampuan Dasar Pemandu Latihan.

2. Peran & Fungsi Pemanduan Latihan

3. Prinsip-prinsip Umpan Balik dalam pelatihan

C. Waktu

180 menit efektif

D. Peralatan

1. Kuisioner “Daftar Kemampuan Dasar Pemanduan Latihan” (LKK.I-2.A)

2. Lembar Pengamatan (LKK.I-2.B).

E. Proses

1. Penjelasan singkat tentang tujuan dan materi pokok kegiatan ini.

2. Bagikan kuisioner “Daftar Kemampuan Dasar Pemandu Latihan” (LKK.I-2.A) kepada setiap peserta, beri penjelasan seperlunya, kemudian minta mereka mengisinya dengan tenang dan serius serta jujur. Untuk itu, katakan waktu cukup lama: 1 jam penuh!

3. Setelah selesai, bagi peserta dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing 3 orang, kemudian bagikan Lembar Pengamatan (LKK.I-2.B) kepada setiap peserta, lalu jelaskan proses kegiatan yang akan berlangsung:

Tiap kelompok mengambil tempat saling terpisah dengan sebuah meja tulis dan 3 buah kursi melingkarinya.

Tiap peserta dalam tiap kelompok akan menjalankan peran sebagai:

– Seorang Klien

– Seorang Konsultan

– Seorang Pengamat

Peran akan dilakukan secara bergiliran setiap 20 menit, sehingga dalam waktu 3 x 20 menit (1 jam), setiap peserta telah menglami semua peranan tersebut. Pemandu akan memberi tanda pada setiap pergantian waktu.

tugas masing-masing peran adalah:

– Klien: menjelaskan hasil isian kuisionernya kepada Konsultan, alasan-alasan mengapa ia mengisi demikian, dan meminta tanggapan Konsutan.

– Konsultan: mendengarkan penjelasan hasil isian kuisioner dari Klien serta alasan-alasannya, mendiskusikan hasil kuisioner tersebut dengan Klien dan mengajukan pendapatnya pada klien.

– Pengamat: mengamati jalannya proses diskusi antara Klien dengan Konsultan dan menilai penampilan serta pelaksanaan tugas Konsultan berdasarkan Lembar pengamatan (LKK.I-2.B). pengamat tidak dibenarkan ikut campur dalam proses tersebut, cukup mengamati dan menilai saja.

4. Selama kegiatan konsultasi berlangsung, Pemandu mengamati setiap kelompok dan mencatat hal-hal yang menarik dan dianggap penting untuk analisa nanti. Awasi agar konsultasi pada setiap kelompok berlangsung serius dan tidak “asal-asalan”.

5. Setelah selesai, seluruh peserta diminta kembali dalam susunan kelas semula. Minta setiap peserta mengungkapkan proses, hasil, dan kesan mereka (baik sebagai Konsultan, Klien maupun pengamat). Catat hal-hal penting di papan tulis mengenai:

– Cara dan sikap Konsultan menghadapi Klien, dan sebaliknya cara dan sikap Klien menghadapi Konsultan.

– Hasil konsultasi antar setiap Klien dengan Konsultannya: apakah ada perubahan pada isian kuisioner semula akibat konsultasi tadi dan mengapa?

– Hasil penilaian pengamat terhadap Konsultan serta proses konsultasi umumnya.

– Kesan umum setiap peserta tentang manfaat kegiatan konsultasi tadi

6. Analisa bersama semua hasil catatan tersebut ke arah kesimpulan tentang:

– Keadaan sekarang rata-rata peserta dalam hal pemilikan kemampuan dasar Pemandu Latihan.

– Fungsi dan peranan seorang Pemandu Latihan sebagai Pembimbing, Peserta atau Pengamat dalam sebuah proses pelatihan.

– Makna umpan balik dalam proses pelatihan dan iskap seorang Pamandu Latihan terhadap umpan balik tersebut (baik dalam memberi atau menerima).

Variasi

1. Setelah langkah-4, setiap peserta boleh saja diminta memberikan hasil isian Lembar Pengamatan mereka kepada Konsultan yang tadi mereka amati, atau bisa saja pada akhir latihan setelah langkah – 6.

2. Setelah langkah-6, jika masih ada waktu, diskusi dan analisa lebih dilanjutkan, tentang: apakah peserta memahami lebih baik siapa Pemandu Latihan dari hasil kuisioner ini jika dikaitkan dengan hasil gambar mereka pada kegiatan sebelumnya? Dalam hal apa saja? Mengapa?
Incoming search terms for the article:

– Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training