INTEGRITAS

Post by : Outbound Malang

Dan (ingatlah) ketika berangkat pagi hari, kau tinggalkan keluargamu mengantarkan orang mu’min ke pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

– Q.S. 3 Surat Ali Imran (Keluarga Imran) Ayat 121 –

Saya teringat Garuda Sugardo, Direktur Teknik dan Rekayasa Telkomsel, ketika pertama kali perusahaan tersebut membangun jaringan telekomunikasi GSM. Pembangunan diawali dari propinsi Bali, sebelum masuk kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Saya menamakannya “serangan Mao Tse Tung”, mengepung dari desa ke kota, sebelum menggempur pesaingnya yang telah lebih dahulu berada di Jakarta. Saya pernah menemaninya bekerja sampai jam satu malam untuk memeriksa ‘coverage’ bersama dengan staf-stafnya yang setia dan sangat militan. Hal ini sering dilakukan olehnya bersama dengan salah seorang staf kepercayaannya, Rif’an. Saya bertanya: “Berapa kamu digaji sehingga mau bekerja seperti ini?” rif’an menjawab: “Saya tidak digaji sepeser pun selama tiga bulan ini.” Saat itu Telkomsel memang baru saja berdiri, tetapi mereka langsung menggebrak namun tetap didukung oleh para karyawannya. Mereka rela berkorban, luar biasa.
Ketika kami sedang berada di ruang Kandatel (Kantor Daerah telekomikasi Denpasar) saya mengajukan pertanyaan kepada Garuda, “Mengapa anda tidak bekerja saja di suatu perusahaan GSM yang menawarkan gaji satu milyar rupiah?” (saya tahu karena memang ada yang menawarkan). Garuda menjawab: “Saya berada di sini karena tradisi perjuangan Telkomsel!” Dalam hati saya akui bahwa memang mereka semua sangat militan dan heroik dan membuat lawannya menjadi gentar. Mereka bekerja sungguh-sungguh layaknya mengerjakan suatu tugas suci. Mereka telah bekerja dengan hati mereka. Dalam waktu singkat telkomsel menjadi perusahaan GSM dengan jangkauan yang terluas di Indonesia. Inilah sebuah contoh integritas, bekerja secara total, sepenuh hati dan dengan semangat tinggi yang berapi-api. Sebagai kenang-kenangan Garuda sugardo memberikan saya sebuah nomer cantik GSM yang berakhiran nomer ‘triple one’.
Mereka yang tedorong kebutuhan untuk meraih prestasi selalu memcari jalan untuk menemukan sukses mereka. Bagi kebanyakan orang, yang dimaksudkan adalah uang. Mereka sering mengatakan bahwa uang tidak begitu penting dibandingkan umpan balik tentang seberapa baik hasil kerja mereka. Seperti kata seorang ‘entrepreneur’ asal California, “Uang bukan masalah utama bagi saya; itu hanya cara untuk mengingat dan mencatat keberhasilan.” Yang lain menyebut buku rapor.

Sebab sungguh, bersama kesukaran ada keringanan. Sungguh, bersma kesukaran da keringanan. Karena itu, selesai (tugasmu), teruslah rajin bekerja. kepada Tuhanmu tunjukan permohonan.

– Q.S. 94 Surat Alam Nasyroh (Bukankah Telah Kami Lapangkan) Ayat 5-8 –

Incoming search terms for the article:

outbound malang

outbound di malang

KECERDASAN EMOSI -EQ

Post by: Outbound Malang

Banyak contoh di sekitar kita membuktikan bahwa orang yang memiliki kecerdasan otak saja, atau banyak memiliki gelar yang tinggi belum tentu sukses berkiprah di dunia pekerjaan. Bahkan seringkali yang berpendidikan formal lebih rendah ternyata banyak yang lebih berhasil. Kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan akal (IQ), padahal yang diperlukan sebenarnya adalah bagaimana mengembangkan kecerdasan hati, seperti ketangguhan, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi yang kini telah menjadi dasar penilaian baru. Saat ini begitu banyak orang berpendidikan dan tampak begitu menjanjikan, namun kariernya mandek. Atau lebih buruk lagi, tersingkir, akibat rendahnya kecerdasan hati mereka.
Saya inginmenyampaikan sesuatu hal yang terjadi di Amerika Serikat tentang kecerdasan emosi. Menurut survey nasional terhadap apa yang diinginkan oleh pemberi kerja, bahwa keterampilan teknik tidak seberapa penting dibandingkan kemampuan dasar untuk belajar dalam pekerjaan yang bersangkutan. Di antaranya, adalah kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi lisan, adaptasi, kreatifitas, ketahanan mental terhadap kegagalan, kepercayaan diri, motivasi, kerjasama tim dan keinginan untuk memberi konstribusi terhadap perusahaan. Saya tambahkan lagi pendapat seorang praktisi kaliber internasional, Linda Keegan, salah seorang Vice President untuk pengembangan eksekutif Citibank di salah satu negara Eropa mengatakan bahwa kecerdasan emosi atau EQ harus menjadi dasar dalam setiap pelatihan manajemen.
Dari hasil Test IQ, kebanyakan orang yang memiliki IQ tinggi menunjukan kinerja buruk dalam pekerjaan, sementara yang ber-IQ sedang, justru sangat berprestasi. Kemampuan akademik, nilai rapor, predikat kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolokk ukur seberapa baik kinerja seseorang sesudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang akan dicapai. Menurut makalah Cleland tahun 1973 “Testing For Competence” bahwa “Seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif akan menghasilkan orang-orang yang sukses dan bintang-bintang kinerja.
Saat ini perusahaan-perusahaan raksasa dunia sudah menyadari akan hal ini. Mereka menyimpulkan bahwa inti kemampuan pribadi dan sosial yang merupakan kunci utama keberhasilan seseorang, adalah kecerdasan emosi. Sekarang yang menjadi masalah, apakah anda jujur kepada diri anda sendiri? seberapa cermat anda merasakan perasaan terdalam pada diri anda? Seringkah anda tidak memperdulikannya? Menurut hadits diriwayatkan oleh H.R. Muslim, Nabi Muhammad menyatakan

“Dosa membuat hati menjadi gelisah”.

Inilah kunci dari kecerdasan emosi anda, kejujuran pada suara hati. Suara hati inilah yang sebenarnya dicari oleh Stephen Covey di dalam bukunta “The Seven Habits of Highly Effective People” atau yang lebih dikenal dengan “The Seven Habits”. Ini yang seharusnya dijadikan sebagai pusat prinsip yang akan memberikan rasa aman, pedoman, daya dan kebijaksanaan. Menurutnya: “Di sinilah anda berurusan dengan visi dan nilai anda. Di sinilah anda menggunakan anugerah anda, —kesadaran diri (self awareness)— untuk memeriksa peta anda, dan apabila anda menghargai prinsip-prinsip yang benar bahwa paradigma anda adalah berdasarkan pada prinsip dan kenyataan, di sinilah anugerah anda —suara hati— sebagai kompas.”

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan mantap kepada agama, menurut fitrah Allah yang telah menciptakan fitrah itu pada manusia. Tiada dapat diubah (hukum-hukum) ciptaan Allah. Itualah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

– Q.S. 30 surat Ar Ruum (Bangsa Romawi) Ayat 30

Artikel Motivasi:BIJAKSANA

Post by : Outbound Malang

Allah memerintahkan berbuat adil, melakukan kebaikan dan dermawan terhadap kerabat. Dan Ia melarang perbuatan keji, kemungkaran dan penindasan. Ia mengingatkan kamu supaya mengambil pelajaran.

– Q.S. 16 Surat An Nahl (Lebah) Ayat 90 –

Untuk memahami suara hati, perlu disadari secara sungguh-sungguh, bahwa semua sifat-sifat itu dirancang melalui satu kesatuaan tauhid, yang tidak dapat berdiri sendiri secara terpisah, namun bersifat esa atau satu. Semua dilaksanakan secara seimbang, itulah pencerminan dari Allah Sang Maha Bijaksana. Maka untuk memiliki suatu kecerdasan emosi, sepatutnya kita berpedoman serta mempelajari secara keseluruhan mengenal sifat-sifat Allah itu, itulah sumber dari suara hati kita. Pemahamannya tidak bisa diambil satu persatu untuk kepentingan atau selera pribadi saja, dengan mengabaikan sifat-sifat yang lain. Ingat, sifat Allah Yang Maha Bijaksana, pemahamannya haruslah melalui suatu mekanisme berpikir dan pelatihan yang terarah melalui Rukun Iman dan Rukun Islam. Tidak bisa pula hanya dipahami melalui otak atau sarana logis, tetapi harus melalui pencernaan hati yang suci bersih.
Pada hakikatnya segala keputusan yang akan anda ambil, jika dilandasi oleh dan karena Allah, anda akan menemukan sebuah kebijaksanaan mulia dengan penuh percaya diri. Keterbukaan berpikir, yang merupakan hal esensial dalam pengambilan keputusan. Sebuah proses dinamis di mana kita mengambil atau memilih di antara beragam alternatif. Keterbukaan dalam berpikir di mana di dalamnya terdapat proses memilah dan memilih, sebuah cerminan sifat bijaksana yang terpancar dari spektrum iman.
Saya akan mencoba memberikan beberapa contoh sikap seseorang yang berusaha untuk bersikap bijaksana (99 Thinking Hats)

• Dorongan ingin berkuasa, tidak bisa berdiri sendiri, harus juga suci dan bersikap rahman dan rahim serta adil.
• Dorongan ingin mencipta, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus berhitung, dan berilmu.
• Dorongan ingin sejahtera, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus suci, juga tegas, dan membela kebenaran.
• Dorongan ingin mandiri, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus terpercaya, kokoh, dan harus memulau suatu langkah.

Semua itu barulah sebagin kecil dari sembilah puluh sembilan sifat-sifat Allah, yang merupakan sumber suara hati itu.
Saya akan memberikan beberapa contoh nyata dari pengertian di atas; Levi Strauss, pabrik pembuat pakaian raksasa, menghadapi suatu dilema sehubungan dengan dua sub-kontraktor jahit di Banglades, yang menggunakan tenaga kerja anak-anak. Para aktivis hak asasi manusia Internasional terus menekan Lwvi Strauss untuk tidak lagi memperbolehkan kedua kontraktor itu menggunakan pekerja di bawah umur. Namun, investor perusahaan menemukan bahwa jika anak-anak itu kehilangan pekerjaan, mereka menjadi miskin dan mungkin bisa jatuh ke lembah prostitusi. Haruskah perusahaan memecat mereka, guna melindungi mereka dari nasib yang lebih buruk? Solusi kreatif dalam hal ini adalah tidak memilih mana pun dari alternatif tadi. Levi Strauss memutuskan untuk tidak mencoret nama anak-anak itu dari daftar upah, sementara mereka tetap bersekolah secara paruh waktu, dan kemudian ketika mereka mencapai empat belas tahun, usia dewasa di negeri itu, perusahaan menarik mereka kembali bekerja. inilah contoh penggabungan dari beberapa dorongan suara hati ketika Levi Strauss harus membuat suatu keputusan yang rumit berupa dorongan ingin memelihara, ketika harus mempertahankan aksistensi perusahaan, sekaligus dorongan ingin melindungi ketika harus mencegah anak-anak dari lembah kemiskinan dan prostitusi, dan dorongan untuk memberikan kepada anak-anak. Serta dorongan suara hati untuk bersikap adil dan bijaksana. Inilah yang dimaksud satu kesatuan tauhid atau prinsip esa (99 Thinking Hats). Hasil Thawaf Suara Hati.
Ketika saya menjajaki suatu kemungkinan kerjasama dengan salah satu bank di indonesia dalam pemasaran kartu diskon sekaligus ATM, saya mengadakan suatu pertemuan dengan salah seorang pimpinan cabang suatu bank. Dengan pongah dia berkata kepada saya: “Kami tidak memerlukan suatu kerjasama apa pun, karena saat ini kami sedang melakukan ekspansi pembukaan kantor cabang dan ATM di dua puluh tujuh propinsi di Indonesia. Dan Kami akan menyaingi salah satu bang terbesar di Indonesia, dalam waktu dekat ini.” Beberapa tahun kemudian bank tersebut tutup dan diambil alih oleh pemerintah. Pemiliknya raib hingga kini. Kisah ini menggambarkan bahwa apabila hanya mengikuti satu suara hati saja seperti dorongan menjadi yang terbesar, tanpa mempertimbangkan suara-suara hati yang lain seperti kesabaran, perhitungan, dan kebijaksanaan, justru akan melahirkan suatu kegagalan dan kehancuran.
Ketika saya sedang menulis buku ini, saya sedang sibuk membantu salah satu perusahaan sejenis asuransi kesehatan. Saya diminta bantuan untuk menjual saham perusahaannya dalam waktu yang mendesak. Perusahaan itu sedang kesulitan likuidasi. Lalu saya minta tim manajemennya mempresentasikan sekaligus mendiskusikan permasalahan. Saya bisa menarik kesimpulan bahwa perusahaan tersebut telah melakukan “over servicing” atau pelayanan yang berlebihan sehingga mengakibatkan kerugian secara finansial. Saya menganjurkan mereka segera membuat rencana perbaikan di tingkat pelayanan agar sesuai dengan jumlah pendapatan mereka, ke dalam bentuk proposal. Kemudian proposal itu saya tawarkan ke beberapa investor, tetapi umumnya mereka menolak dengan alasan kondisi ekonomi yang kurang baik saat ini untuk melakukan suatu investasi. Setelah saya coba tawarkan ke sana-sini, akhirnya saya bertemu dengan salah seorang konglonerat Indonesia. Ia bersedia untuk mengambil alih sebagian besar saham perusahaan itu. Peristiwa ini melukiskan bahwa dorongan ingin memberi yang terbaik harus juga disertai dengan suara hati untuk berhitung dengan cermat dan suara hati untuk memelihara dan mempertahankan perusahaan (99 Thinking Hats).
Terjadinya perbedaan-perbedaan pendapat sebenarnya adalah perbedaan prioritas dari dorongan hati. Akanlebih mudah untuk memahami pikiran dan keinginan orang lain apabila lebih dulu memahami makna 99 Thinking Hats ini. Bahkan anda akan memiliki suatu radar hati yang mampu membaca suara hati orang lain apabila hafal dan paham sifat-sifat Allah yang merupakan dasar dari suara hati manusia. Inilah Empati dalam Star Principle. Anda akan semakin mudah masuk dan menyelami hati sanubari orang lain, dengan mengetahui apa tangisan dan apa impian orang lain.

Sungguh, Allah memerintahkan kepadamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya. Dan jika kamu menetapkan hukum antara manusia, hendaklah kamu menghukum dengan adil.sungguh, alangkah indahnya peringatan yang Allah berikan kepadamu! Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat!

– Q.S. 4 Surat An Nisaa’ (Wanita-wanita) Ayat 58 –

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

MENTAL BUILDING MEMBANGUN MENTAL

Post by : Outbound Malang
Sungguh, orang-orang yang beriman dan melakukan amal kebaikan merekah mahluk sebaik-baiknya.

– Q.S. 98 surat Al Bayyinah (Bukti Nyata) Ayat 7 –

Setelah melalui Bagian Satu, yaitu “Penjernihan Emosi”, anda diharapkan sudah bisa mengenali tujuh faktor yang dapat membelenggu God-spot (fitrah), yaitu: prasangka negatif, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan dan prioritas yang subyektif, sudut-sudut pandang, pembanding yang tidak obyektif, dan literatur-literatur. Pada bagian tersebut anda diharapkan sudah mampu mengantisipasi dan menjernihkan hati dan pikiran anda yang mungkin terbelnggu, baik secara disadari atau tanpa disadari.
Pada bagian “anggukan Universa”, saya berharap akan timbul suatu kesadaran diri bahwa pada dasarnya manusia memiliki hati yang universal, dengan syarat anda telah memiliki kejernihan hati, serta sudah terbebas dari ketujuh belenggu di atas. Juga akan muncul suatu kesadaran diri bahwa pada hakikatnya anda diberikan suatu karunia oleh Tuhan untuk bebas memilih reaksi anda sendiri terhadap suatu permasalahan yang timbul, atau terhadap suatu gagasan yang dimiliki (freedom of choice). Pada Bagian Satu itu, anda diharapkan juga sudah menyadari akan arti pentingnya efektifitas Bimillahirrahmanirrohim dan keseimbangannya, yang mendahulukan upaya ketimbang menunggu hasil, serta selalu bersikap rahman dan rahim, dan memiliki pemahaman akan arti penting kecerdasan emosi dan spiritual atau ESQ.
Pada Bagian dua ini, setelah anda memiliki kejernihan hati, maka anda akan mulai diisi dan dibangun melalui enam Prinsip yang didasarkan atas Rukun Iman, yaitu membangun prinsip bintang sebagai pegangan hidup; memliki prinisp malaikat sehinggat anda selalu dipercaya oleh orang lain; memiliki prinisp kepemimpinan yang akan membimbing anda menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh; menyadari akan arti pentingnya prinsip pembelajaran yang akan mendorong kepada suatu kemajuan; mempunyai prinsip masa depan, sehingga anda akan selalu memiliki visi, dan terakhir yaitu memiliki prinsip keteraturan, sehingga tercipta suatu sistem dalam satu kesatuan tauhid, atau prinsip esa di dalam berpikir.
Setelah melalui pemahaman ekeenam prinsip ini, maka diharapkan anda akanmemiliki suatau landasan kokoh untuk memiliki sebuah kecerdasan hati, yang terbentuk di dalam diri anda. Dan yang terpenting adalah bahwa anda mempunyai suatu pegangan pasti, berupa sebuah prinsip yang sangat kuat dan tidak akan berubah meskipun menghadapi berbagai rintangan dan permasalahan yang sangat berat sekalipun, prinsip in akan abadi selamanya. Inilah sumber kebahagiaan dan ketenteraman di dalamhidup anda dan landasan bagi suatu kecerdasan emosi yang tinggi dan pintu gerbang menuju suatu keberhasilan baik lahir maupun batin.
Semua hasil karya terbaik manusia yang pernah ada, baik yang berbentuk fisik maupun nonfisik, awalnya tercipta melalui proses berpikir dalam alam pikiran. Kemudian dikembangkan dan diwujudkan pada alam nyata. Marilah kita simak contoh pertama, ketika sebuah mobil tercipta dalam berbagai bentuk, type, ukuran, dengan segala kecanggihannya. Terbayangkah dibenak kita, bahwa berabad-abad lalu ada orang yang menciptakan sebuah imajinasi mobil dalam pikirannya kemudian mewujudkannya di alam nyata? Contoh kedua, siapa menyangka air putih yang sehari-hari kita minum, ternyata menjadi sebuah bisnis besar “air mineral’? contoh-contoh di atas memberikan kita sebuah pemahaman bahwa betapa kekuatan berpikir (iman) memiliki potensi besar bagi hidup manusia.
Proses berpikir yang efektif memiliki dasar dan kerangka rujukan yang jelas, dengan didasari rasa tanggung jawab iman. Iman di sini yaitu menyakini dalam hati, mengucapkan dalamlisan serta mengamalkan dalam perbuatan. Iman sebagai dasar rujukan dalam proses berpikir secara aktual yang dimanifestasikan dalam bentuk amalshaleh yaitu untuk mewujudkan rahamatan lil ‘alamin, keseimbangan bagi alam dan segala isinya.
Untuk mencapai kondisi yang rahmatan lil ‘alami, dimana sebuah cita-cita luhur dapat digantungkan setinggi-tingginya, ada dua hal pokok yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Yang pertama, membangun prinsip berpikir yang benar dengan pijakan dasar yang kuat. Konsep berpikir di sini berhubungan kuat dengan kemampuan nalar (reasoning power) seseorang. Dengan kemampuan nalar ini seseorang dapat mencerna unsur-unsur penting seperti pandangan, paradigma, nilai-nilai dan visi ke depan.pokok yang kedua dinamakan kecerdasan emosi (emotional quotient) yang meliputi unsur suara hati, kesadaran diri, motivasi, etos kerja, keyakinan, integritas, komitmen, konsistensi, presistensi, kejujuran, daya tahan danketerbukaan. Ia semacam motivator dan inspirator utama bagi seseorang untuk mengerahkan seluruh potensi berpikir atau bernalar secara kognitif.
Pada gambar ESQ Model terdapat enam azas yang berfungsi untuk melindungi pusat orbit, atau Fitrah (God Spot). Keenam azas ini berfungsi untuk menjaga agar fitrah di pusat tetap utuh terpelihara. Dan karakteristik dari keenam azas ini adalah sesuai dengan sifat dasar manusia (human nature) yang sejalan dengankehendak hati nurani, serta kehendak alam, sebagai cerminan dari kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Bahkan urutan keenam azas ini disusun secara sistematis sehingga saling menopang antara satu prinsip dengan prinsip yang lain. Semuanya bergerak melingkari titik Tuhan, yaitu berkiblat kepada kehendak Allah. Enam azas ini adalah metode ringkas untuk membangun metal hanif, sehingga seseorang akanmampu mendengar bisikan suara hati ilahiah sebagai bimbingan dari Sang Maha Sempurna.

Incoming search terms for the article:

– Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Artikel Motivasi: KECERDASAN SPIRITUAL – SQ

Post by : Outbound Malang

Danah Zohar dan Ian Marshall mendefiniskan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untukmenghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita (Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Spirirtual Intellegence, Bloomsbury, Great Britain)
Sedangkan di dalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip “hanya karena Allah”. Saya akan berikan contoah, Harry bekerja di sebuah perusahaan otomotif sebagai seorang buruh. Tugasnya memasang dan mengencangkan baut pada jok pengemudi mobil. Itulah tugas rutin yang sudah dikerjakannya selama hampir sepuluh tahun. Karena pendidikannya hanya setingkat SLTP, maka sulit baginya untuk meraih posisi puncak. Saya pernah bertanya kepada Harry bahwa bukankah itu suatu pekerjaan yang sangat membosankan, dia menjawab dengan tersenyum, “Tidakkah ini suatu pekerjaan mulia, saya telah menyelamatkan ribuan orang yang mengemudikan mobil-mobil ini?, saya mengeratkan kuat-kuat kusri pengemudi yang mereka duduki, sehingga mereka sekeluarga selamat, termasuk kursi pengemudi yang anda duduki itu”. Esok harinya saya mendatangi Harry lagi. Saya ajukan pertanyaan, “Mengapa anda tidak melakukan mogok kerja seperti yang lain untuk menuntut kenaikan upah, dan nampaknya saat ini bahkan anda bekerja semakin giat saja?” Ia memandang mata saya, seraya tersenyum ia menjawab “Saya memang senang dengan kenaikan upah itu, seperti teman-teman yang lain, tapi saya memahami bahwa keadaan ekonomi sangat sulit, sehingga perusahaan kekurangan dana, saya memahami pimpinan perusahaan yang juga tentu sedang dalam kesulitan, dan bahkan terancam pemotongan gaji seperti saya. Jadi kalau saya mogok kerja, maka itu hanya akan memperberat masalah mereka”. Lalu ia melanjutkan pembicaraan sambil tersenyum. “Saya bekerja, karena prinsip saya adalah ‘memberi’, bukan hanya untuk perusahaan, tapi untuk ibadah saya.” Setelah lima tahun Harry telah menjadi seorang pengusaha otomotif ternama di Jakarta.
Harry mampu memaknai pekerjaannya sebagai ibadah, demi kepentingan umat manusia dan Tuhannya yang sangat dicitainya. Ia berpikir secara tauhidi dengan memahami seluruh kondisi perushaan, situasi ekonomi, dan masalah atasannya, dalam satu kesatuan yang esa (integral). Harry mempergunakan prinsip Bismillah dengan tetap bekerja giat dan bahkan lebih giat lagi. Harry berprinsip dari dalam, bukan dari luar, ia tidak terpengaruh oleh lingkungan. Harry adalah seorang raja, raja atas jiwanya. Jiwa yang bebas merdeka dengan prinsip La ilaha illallah. Inilah satu contoh konkrit hasil penggodokan kecerdasan emosi dan spiritual –ESQ. Sebuah penggabungan atau sinergi antara kepentingan dunia (EQ) dankepentingan spiritual (SQ). hasilnya adalah kebahagiaan dan kedamaian pada jiwa Harry, sekaligus etos kerja Harry yang tinggi tak terbatas. Harry menjadi aset perusahaan yang sangat penting. Harryi adalah “rahmatan lil alamiin”.

Take time to THINK. It is the source of power
Take time to READ. It is the foundation of wisdom.
Take time to QUIET. It is the opportunity to seek God.
Take time to DREAM. It is the future made of.
Take time to PRAY. It is the greatest power on earth.

– Author Unknown –

“Kemudian Ia memberinya bentuk (dengan perbandingan ukuran yang baik), dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya. Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan (perasaan) hati…”

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Artikel Motivasi:KECERDASAN EMOSI -EQ

Post by : Outbound Malang

Banyak contoh di sekitar kita membuktikan bahwa orang yang memiliki kecerdasan otak saja, atau banyak memiliki gelar yang tinggi belum tentu sukses berkiprah di dunia pekerjaan. Bahkan seringkali yang berpendidikan formal lebih rendah ternyata banyak yang lebih berhasil. Kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan akal (IQ), padahal yang diperlukan sebenarnya adalah bagaimana mengembangkan kecerdasan hati, seperti ketangguhan, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi yang kini telah menjadi dasar penilaian baru. Saat ini begitu banyak orang berpendidikan dan tampak begitu menjanjikan, namun kariernya mandek. Atau lebih buruk lagi, tersingkir, akibat rendahnya kecerdasan hati mereka.
Saya inginmenyampaikan sesuatu hal yang terjadi di Amerika Serikat tentang kecerdasan emosi. Menurut survey nasional terhadap apa yang diinginkan oleh pemberi kerja, bahwa keterampilan teknik tidak seberapa penting dibandingkan kemampuan dasar untuk belajar dalam pekerjaan yang bersangkutan. Di antaranya, adalah kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi lisan, adaptasi, kreatifitas, ketahanan mental terhadap kegagalan, kepercayaan diri, motivasi, kerjasama tim dan keinginan untuk memberi konstribusi terhadap perusahaan. Saya tambahkan lagi pendapat seorang praktisi kaliber internasional, Linda Keegan, salah seorang Vice President untuk pengembangan eksekutif Citibank di salah satu negara Eropa mengatakan bahwa kecerdasan emosi atau EQ harus menjadi dasar dalam setiap pelatihan manajemen.
Dari hasil Test IQ, kebanyakan orang yang memiliki IQ tinggi menunjukan kinerja buruk dalam pekerjaan, sementara yang ber-IQ sedang, justru sangat berprestasi. Kemampuan akademik, nilai rapor, predikat kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolokk ukur seberapa baik kinerja seseorang sesudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang akan dicapai. Menurut makalah Cleland tahun 1973 “Testing For Competence” bahwa “Seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif akan menghasilkan orang-orang yang sukses dan bintang-bintang kinerja.
Saat ini perusahaan-perusahaan raksasa dunia sudah menyadari akan hal ini. Mereka menyimpulkan bahwa inti kemampuan pribadi dan sosial yang merupakan kunci utama keberhasilan seseorang, adalah kecerdasan emosi. Sekarang yang menjadi masalah, apakah anda jujur kepada diri anda sendiri? seberapa cermat anda merasakan perasaan terdalam pada diri anda? Seringkah anda tidak memperdulikannya? Menurut hadits diriwayatkan oleh H.R. Muslim, Nabi Muhammad menyatakan

“Dosa membuat hati menjadi gelisah”.

Inilah kunci dari kecerdasan emosi anda, kejujuran pada suara hati. Suara hati inilah yang sebenarnya dicari oleh Stephen Covey di dalam bukunta “The Seven Habits of Highly Effective People” atau yang lebih dikenal dengan “The Seven Habits”. Ini yang seharusnya dijadikan sebagai pusat prinsip yang akan memberikan rasa aman, pedoman, daya dan kebijaksanaan. Menurutnya: “Di sinilah anda berurusan dengan visi dan nilai anda. Di sinilah anda menggunakan anugerah anda, —kesadaran diri (self awareness)— untuk memeriksa peta anda, dan apabila anda menghargai prinsip-prinsip yang benar bahwa paradigma anda adalah berdasarkan pada prinsip dan kenyataan, di sinilah anugerah anda —suara hati— sebagai kompas.”

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan mantap kepada agama, menurut fitrah Allah yang telah menciptakan fitrah itu pada manusia. Tiada dapat diubah (hukum-hukum) ciptaan Allah. Itualah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”

– Q.S. 30 surat Ar Ruum (Bangsa Romawi) Ayat 30 –

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training