GOD-SPOT DAN KEMERDEKAAN BERPIKIR

Post by : Outbound Malang

Dan di antara mereka ada yang memandang kepadamu, tetapi dapatkah kamu membimbing orang buta, sekalipun mereka tiada melihat?

– Q.S. 10 Surat Yunus (Nabi Yunus) ayat 43 _

Saya akan memberikan contoh tentang manfaat kesucian hati yang akan mampu melahirkan ide-ide cemerlang (out of the box). Bisnis air mineral atau air putih yang dikemas dalam botol plastik, saat ini di Indonesia begitu merebak dengan dahsyat. Kini sudah ada ratusan perusahaan yang bergerak di bidang ini. Pelopornya adalah merek Aqua, dan saat ini sudah ada ribuan merek dengan berbagai kemasan, dan isinya hanya air. Sebelum Aqua diluncurkan, semua orang saat itu tidak pernah menyangka sama sekali bahwa air dalam botol plastik akanmenjadi bisnis raksasa. Kala itua, semua orang tidak mampu melihat peluang tersebut. Mengapa? Mereka termasuk kita pada saat itu, sudah terbiasa minum air putih di dalam gelas, bukan di botol. Itu menjadi tradisi yang tidak pernah terpikirkan lagi. Pikiran kita sudah terbelenggu oleh tradisi minum air di gelas. Tanpa kita sadari kita tidak merdeka dalam berpikir, dijajah oleh belenggu tradisi. Walaupun air putih selalu kita lihat sehari-hari kita tidak mampu melihat peluang bahwa orang seringkali membutuhkan air putih sebagai pelepas dahaga di tengah perjalanan. Saat jutaan orang kesulitan mencari air putih, kita tidak bisa melihat peluang raksasa itu, karena hati dan pikiran kita tertutup oleh kebiasaan dan tradisi.
Kemerdekaan berpikir atau mensucikan pikiran akan selalu menghasilkan sesuatu yang baru, karya-karya baru. Merdeka mencipta tanpa belenggu pikiran, itulah hasil kesucian dan kebebasan berpikir, God-Spot yang menghasilkan bisnis raksasa.
Jernihkan pikiran, bebaskan God-spot dari belenggu, dan berkreasilah.

“Tiadakah mereka melakukan perjalanan di muka bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka merasa, dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Sungguh, bukanlah matanya yang buta, tetapi yang buta ialah hatinya, yang ada di dalam (rongga) dada.”

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Artikel Motivasi: KESADARAN DIRI

Post by : Outbound Malang

Ketahuilah! Mereka melipat hatinya, supaya (pikirannya) tersembunyi daripada (Allah). Ingatlah! Pada waktu mereka menutupi dirinya dengan bajunya, (Allah) mengetahui apa yang mereka sembunyikan, dan apa yang mereka nyatakan. Sungguh, ia mengetahui segala isi hati.

– Q.S. 11 Surat Huud (Nabi Hud) ayat 5 –

Ketujuh belenggu di atas, yakni prasangka, prinsip, pengalaman, prioritas dan kepentingan, sudut pandang, pembanding, dan literatur-literatur merupakan hal yang sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang, oleh karena itu “kemampuan” melihat sesuatu secara jernih dan obyektif harus didahului oleh kemampuan mengenal faktor-faktor yang mempengaruhinya itu. Caranya adalah dengan mengembalikan manusia pada fitrah hatinya atau “God-Spot”. Sehingga manusia akan mampu melihat dengan “Mata Hati”, mampu memilih dengan tepat, memprioritaskan dengan benar. Dari cara melihat yang obyektif ini maka keputusan yang diambil akan benar dan dengan cara yang adil dan bijaksana sesuai dengan fitrah dan suara hati. Itulah contoh-contoh kecerdasan emosional dan spiritual yang tinggi, atau ESQ yang cerdas.
Menyebutkan secara berulang-ulang, melalui ucapan, pikiran dan hati sekaligus, seuah suara hati akan mampu mendorong pikiran untuk menjadi suci dan bersih, sehingga membekas di hati. Ucapan Subhanallah, Maha Suci Allah, harus diterapkan untuk membangun kekuatan pikiran bawah sadar, sehingga akan mendarah daging di dalam diri kita menjadi sesuatu kekuatan, itulah yang disebut “Repetitive Magic Power” yang akan menghilangkan pengaruh pikiran-pikiran buruk, paradigma, dan ketujuh belenggu di atas, yang membuat manusia menjadi buta hati, tidak peka atau memiliki kecerdasan hati yang minim. Repetitive madic power ada dzikir, dan bertasbih. Mengingat kesucian nama Tuhan setiap hari akan terus membantu danmengandalikan kejernihan hati manusia, maka ia akanmampu melihat sesuatu permasalhan tanpa didasari latar belakang interest, pembanding dari sudut pandang subyektif, tetapi melihat sesuatu secara apa adanya, bukan memandang sesuatu menjadi merah karena lensa kacamata anda merah, atau semua hijau karena lensa kacamata anda hijau, namun pergunakanlah lensa kacamata bening sehingga anda mampu membedakan mana yang hijau danmana yang merah. Ingatlah cara berpikir Tuhan yang Suci. Pikiran kita seperti tanah tempat kita bercocok tanam, tanaman adalah ide, visi atau sesuatu gagasam. Apabila tanah tersebut sudah tercemar dan rusak, maka tanaman akan rusak dan mati, begitu pula dengan ide dan gagasan apabila ditanam pada pikiran yang kotor. Jadi sebelum merespon suatu permasalahan, melihat suatu peluang, menyusun suatu rencana, atau mengambil suatu langkah, maka langkah pertama yang terpenting adalah periksa dulu hati dan pikiran yang kita miliki, apakah sudah bebas hama?
Langkah pengenalan hama dan pembersih God-Spot itulah yang disebut “Zero Mind Process” atau pembentukan hati dan pikiran yang jernih dan suci. Dia akan siap untuk menghadapi berbagai rintangan karenan mampu bersikap positif dan akan tanggap terhadap suatu peluang serta bisa menerima pemikiran baru tanpa dipengaruhi dogma yang membelenggu. Merdeka dan berpikir, dan hasilnya akan tercipta pribadi-pribadi yang kreatif, berwawasan luas, terbuka atau fleksibel, mampu berpikir jernih dan God-Spot anda akan kembali bercahaya.
Zero Mind Process adalah sebuah landasan awal dalam memahami pemikiran tentang ESQ dalam buku ini. Apabila dalam shalat dinamakan Takbiratul Ihram, dan di dalam haji dinamakan Ihram, maka dalam buku ini saya namakan Zero Mind Process. Ketiganya diletakkan pada tahap awal, sebelum kegiatan atau rukun-rukun yang lain dilakukan. Intinya adalah, dibutuhkan sebuah kejernihan hati dan pikiran sebelum mencari dan menemukan kebenran. Kebenaran yang sesuai dengan Human Nature, dan kehendak Tuhan Sang Pencipta.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan mantap kepada agama manurut fitrah Allah yang telah menciptakan fitrah itu pada manusia. Tiada dapat diubah (hukum-hukum) ciptaan allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”

– Q.S. 30 Surat Ar Ruum (Bangun Romawi) Ayat 30 –
Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Games Outbound: Sumo Pong

Post by : : Outbound Malang

A. Tujuan Permainan:
1. Mengatur strategi
2. Melatih percaya diri
B. Alat:
Tali untuk membuat arena pertandingan
C. Pelaksanaan:
1. Arena dibuat persegi dengan panjang 3 meter
2. Permainan ini dimainkan satu lawan satu
3. Tangan peserta dtempatkan di punggung. Para peserta salingdorong untuk menjatuhkan lawan

Incoming search terms for the article:
Outbound Malang
– Outbound di Malang
– Outbound Training

Games Outbound: Sungai Asam

Post by : Outbound Malang

A. Tujuan Permainan: Melatih Kekompakan
B. Alat:
1. Tempat pijakan (batu bata, kertas, atau yang lainnya)
2. Tali yang digunakan sebagai jalur

C. Pelaksanaan :
1. Permainan dimainkan berkelompok 5-10 orang
2. Semua anggota kelompok harus bergandengan tangan dan berjalan melewati jalur yang disediakan

D. Peraturan:
1. Semua anggota kelompok harus tetap bergandengan sampai garis finis
2. Peserta yang menginjak tanah (berada di luar pijakan) dianggap gugur

Incoming search terms for the article:
Outbound Malang
– Outbound di Malang
– Outbound Training

MANUSIA & DUNIA : PUSAT MASALAH

Post by: Outbound Malang

Filsafat Freire bertolak dari kenyataan bahwa di dunia ini ada sebagian manusia yang menderita sedemikian rupa sementara sebagian lainnya menikmati jerih payah orang lain, justru dengan cara-cara yang tidak adil. Dalam kenyataannya, kelompok manusia yang pertama adalah bagian mayoritas umat manusia, sementara kelompok yang kedua adalah bagian minoritas umat manusia. Dari segi jumlah ini saja keadaan tersebut sudah memperlihatkan adanya kondisi yang tidak berimbang, yang tidak adil. Inilah yang disebut oleh Freire sebagai “situasi penindasan”. Bagai Freire, penindasan, apa pun nama dan apapun alasannya, adalah tidak manusiawi, esuatu yang menafikan harkat kemanusiaan (dehumanisasi). Dehumanisasi ini bersifat mendua, dalam pengertian terjadi atas diri mayoritas kaum tertindas dan juga atas diri minoritas kaum penindas. Keduanya menyalahi kodrat manusia sejati. Mayoritas kaum tertindas menjadi tidak menusiawi karena hak-hak asasi mereka dinistakan, karena mereka dibuat tak berdaya dan dibenamkan dalam :kebudayaan bisu” (submerged in the cultur of silence) adapun minoritas kaum penindasan menjadi tidak manusiawi karena telah memdustai hakekat keberadaan dan hati nurani sendiri dengan memaksakan penindasan bagi manusia sesamanya. Karena itu tak ada pilihan lain, ikhtiar memanusiakan kembali manusia (humanisasi) adlah pilihan mutlak. Humanisasi adalah satu-satunya pilihan bagi kemanusiaan, karena walaupun dehumanisasi adalah kenyataan yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia dan tetap merupakan suatu kemungkinan antologis di masa mendatang, namun ia bukanlah suatu keharusan sejarah. Secara dialektis, suatu kenyataan tidaklah mesti menjadi suatu keharusan. Jika kenyataan menyimpang dari kaharusan, maka menjadi tugas manusia untuk merubahnya agar sesuai dengan apa yang seharusnya. Inilah fitrah manusia ejati (the man’s ontological vocation). Bagai Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau obyek. Panggilan menusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindas atau yang mungkin menindasnya. Dunia dan realitas atau realitas dunia ini bukan “sesuatu yang ada dengan sendirinya”, dan karena itu “harus diterima menurut apa adanya” sebagai suatu takdir atau semacam nasib yang tak terelakan, semacam mitos. Manusia harus menggeluti dunia akan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya-cipta, dan hal itu berarti atau mengandalkan perlunya sikap orintastif yang merupakan pengembangan bahasa pikiran (thought of language), yakni bahwa pada jakekatnya manusia mampu memahami keberadaan dirinya dan lingkungan dunianya yang dengan bekal pikiran dan tindak “praxis” nya ia merubah dunia dan realitas. Karna itulah manusia berbeda dengan binatang yang hanya digerakan oleh naluri. Manusia juga memiliki naluri, tapi juga memiliki keasadaran (consciousness). Manusia memiliki kepribadian, eksistensi. Ini tidak berarti manusia tidak memiliki keterbatasan, tetapi dengan fitra kemanusiannya seseorang harus mampu mengatasi situasi-situasi batas (limitsituation) yang mengekangnya. Jika seseorang menyerah pasrah pada situasi batas itu, apalagi tanpa ikhtiar dan kesadaran sama sekali, maka sesungguhnya ia tidak manusiawi lagi. Seseorang yang manusiawi harus menjadi pencipta (the creator) sejarahnya sendiri. Dan, karena seseorang hidup di dunia dengan orang-orang lain sebagai umat manusia, maka kenyataan “ada bersama” (being to gether) itu harus dijalani dalam proses “menjadi” (becoming) yang tak pernah selesai. Ini bukan sekedar adaptasi, tapi intergrasi untuk menjadi manusia seutuhnya. Manusia adalah penguasa atas dirinya, dan karena itu fitrah manusia adalah menjadi merdeka, menjadi bebas. Ini adalah tujuan akhir dari upaya humanisasinya Freire. Humanisasi, karenanya adalah juga berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dan situasi-situasi batas yang menindas di luar kehendaknya. Kaum tertindas harus memerdekakan dan membebaskan kaum penindas mereka dan penjarah hati nurani yang tidak jujur melakukan penindasan. Jika masih ada perkecualian, maka kemerdekaan dan kebebasan sejati tidak akan pernah tercapai secara penuh dan bermakna.

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

Artikel Motivasi:Contoh berpikir melingkar

Post by: Outbound Malang

Saya akan memberikan sebuah contoh yang nyata, judulny: “Pak DS membeli sebuah becak.” Pada suatu saat, Pak DS, (masih orang yang sama), bertugas diluar kota Jakarta. Dia memiliki seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan membutuhkan sarana transportasi yang aman dan murah. Tiba-tiba katanya, muncul sebuah ide bagaimana soal trasnportasi bisa diselesaikan, dan keamanan anaknya tetap terjamin. Yang dia lakukan sumggguh di luar dugaan, DS membeli sebuah becak. Kemudian ia memanggil seorang bapak tua yang tidak memiliki pekerjaan, yang ditugasi mengantar anaknya ke sekolah setiap hari. Setelah bertugas mengantar jemput sang anak ke sekolah, orang tua itu boleh mencari tambahan penghasilan lain dengan cara mencari penumpang. Perjanjian dibuat dan disepakati, bahwa setelah satu tahun becak tersebut akan menjadi milik si Bapak Tua tetapi dia berkewajiban menjaga keselamatan sang anak sekaligus mengantar dan menjemputnya. “Oh iya, satu lagi…” katanya. “Becak tersebut dihiasai bulu-bulu ayam yang berwarna-warni cerah.” Sang anak senang sekali.
Cerita ini salah satu contoh kecerdasan hati yang berpegang pada prinsip, berpikir melingkar dan mempergunakan radar hati. Saya akan coba bahas contoh tersebut dia atas. DS berprinsip pada keamanan anaknya. Namun dia juga mempertimbangkan prinsip memberi (kepada si Bapak tua), berprinsip pada kepercayaan (dari si Bapak tua), berprinsip sosial, berprinsip mencipta (lapangan pekerjaan), berprinsip membimbing (untuk si Bapak tua), berprinsip menolong (memberikan pekerjaan), berprinsip menghitung (masa kerja satu tahun sebelum memiliki becak untuk si Bapak tua), dan satu lagi, berprinsip indah (menghiasi becak). Inilah contoh berpikir melingkar itu

Incoming search terms for the article:

Outbound Malang

– Outbound di Malang

– Outbound Training

× Dapatkan Penawaran